Oleh: halaqohdakwah | Januari 4, 2011

Mendidik dengan Cinta

Oleh : Achmad Siddik Thoha

Seorang Profesor pakar Sosiologi, terkejut melihat hasil survei yang dilakukan bersama mahasiswanya. Survei yang dilakukan terhadap pria dewasa yang kini hidup sukses menunjukkan hasil yang jauh dari hipotesanya. Orang yang disurvei dulunya juga pernah diwawancara saat mereka hidup di kampung kumuh dua puluh lima tahun lampau.

Survei awal, dua puluh lima tahun silam, sang professor hampir menyimpulkan bahwa anak-anak yang dulunya tinggal di kawasan kumuh takkan bisa memiliki masa depan yang cerah. Biasanya lingkungan yang buruk bagi anak akan menghantar pada masa depan suram bagi mereka. Umumnya saat mereka dewasa, hampir semuanya menikmati kehidupan di penjara.

Hal ini tak terjadi anak pada hasil survei yang dilakukannya di kampung kumuh itu. Hasilnya, dua puluh lima tahun kemudian, anak-anak yang tumbuh dan besar di lingkungan kumuh tidak hidup sebagai kriminal dan pesakitan. Ternyata hanya empat anak dari 190 anak yang di survei dulu, yang masuk penjara. Sisanya hidup normal dan tidak menjadi sampah masyarakat.

Teori dan asumsi Sang Profesor meleset. Dia menduga pasti ada sosok dalam hidup mereka yang bisa merubah kondisi umum ini. Pasti ada orang yang telah memberi arahan, motivasi dan inspirasi sehingga mereka menghindari kehidupan kriminal.

Dia kemudian mencari tahu siapa orang yang berhasil memberi inspirasi dalam hidup mereka. Hampir semua anak-anak yang disurvei yang kini sudah dewasa sangat mengingat sosok seorang guru SMP mereka, Bu Chysan. Sang profesor kemudian mencari tahu dimana alamat Bu Chrysan.

Saat Sang Profesor bertemu, dia melihat Bu Chrysan adalah sosok tua yang sederhana. Sang profesor menanyakan apa rahasianya hingga Bu Chysan bisa membawa perubahan hidup yang luar biasa bagi murid-muridnya, anak-anak lingkungan kumuh itu. Bu Chysan terdiam lama.

”Yang saya tahu, saya hanya mendidik mereka dengan cinta dan saya sangat mencintai mereka.”

Sang Profesor mengangguk paham. Dia mengucapkan terima kasih dan berpamitan pada Bu Chrysan. Bagi Sang Profesor ini adalah bagian terdalam dari ilmu yang pernah diselaminya selama ini.

***

Sahabat, cinta memiliki kekuatan yang luar biasa dalam merubah kehidupan dan anggapan umum. Cinta tak bisa direka dengan teori, tak bisa diformulasikan dengan pengetahuan dan tak bisa disimpulkan secara ilmiah. Cinta berproses dan berjalan sesuai dengan kerumitannya, serumit kita membaca hati seseorang yang selalu berbolak-balik. Ibu dan guru adalah sosok nyata di dunia ini yang mengajarkan pada manusia tentang bagaimana menginspirasi hidup dengan cinta.

Mendidik dengan cinta, semoga menjadi bagian dari karakter kita dalam menjalankan amanah dari-Nya berupa anak, murid, mahasiswa, pasien dan masyarakat.

Diadopsi dari Sebuah Cerita dalam Buku Everyday Greatness Karya David K. Hatch


Responses

  1. Subhanallah. Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga tersebut

  2. hebat…dengan perasaan cinta kita kpd anak2 walaupun dia nakal,bandel dan suka mencari keributan dg menanamkan rasa cinta kpdnya dan mencintainya dg setulus hati,maka merekapun akan memahami perasaan cinta itu dan akan memberikan yg terbaik buat mereka

  3. izin share :
    http://pkssudan.blogspot.com/2012/02/mendidik-dengan-cinta.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: