Oleh: halaqohdakwah | Juni 6, 2010

Holocaust Gaza

Kota Gaza yang luluh lantak oleh serangan Israel

Oleh : Zaim Uchrowi

Gaza, tiba-tiba, terasa menjadi begitu dekat. Dari tanah nusantara ini, Gaza seperti lebih dekat dibanding dengan India. Negara tetangga yang berbatasan langsung dengan kita di kepulauan Andaman, sebelah barat Aceh. Juga dengan Timor leste di Pulau Timor. Gaza menjadi seperti bagian dari kita, bahkan dari masyarakat dunia.

Adalah negara Israel yang ‘berjasa’ mendekatkan Gaza pada hati kita. Sepetak tanah yang sedikit lebih luas dibandingkan Jakarta ini semula menjadi bagian dari hamparan tanah Palestina. Berdirinya negara Israel dan diikuti sejumlah perang untuk merampas tanah membuat posisi Gaza terisolasi. Gaza terjepit oleh hamparan luas tanah yang dikuasai Israel. Laut Tengah yang juga dikontrol negara Zionis ini, serta Gurun Sinai milik Mesir. Gaza terpisah jauh dari wilayah utama Palestina yang mencakup Yerusalem, disisi barat sungai Yordan.

Palestina adalah bangsa yang memiliki kualitas rata-rata diatas bangsa-bangsa Arab tetangganya. Dengan kapasitasnya, mereka tetap mampu menyiasati keadaan Gaza yang terjepit itu. Hingga beberapa tahun yang lalu, layanan kesehatan dan pendidikan di gaza masih lebih baik dibandingkan rata-rata layanan serupa di Indonesia. Hal demikian terus berlanjut sampai tahun 2007 lalu saat politik Palestina terbelah. Gaza dikuasai oleh Hammas, partai politik yang semula lebih aktif dalam kegiatan sosial. Sedangkan ‘pusat’ Palestina dikuasai Fatah.

Tembok Gaza di perbatasan Mesir yang sempat di bom pejuang Palestina pada tahun 2006

Kekuasaan Hammas itu dipakai alasan Israel untuk memblokade Gaza. Dengan dalih mencegah penyelundupan senjata, Israel menutup gaza. Hal serupa ternyata juga diikuti oleh Mesir, yang pemerintahannya memang tidak suka dengan garis politik Hammas. Tidak hanya barang mewah, seperti mobil, peralatan elektronik, dan lain-lain yang tidak bisa masuk Gaza. Bahkan juga kebutuhan pangan harian, obat-obatan, serta energi. Sementara itu, dari waktu ke waktu, bom dan peluru Israel terus menghantam mereka.

Kalangan muda banyak membuat terowongan tikus ke Mesir buat meyelundupkan kebutuhan barang sehari-hari. Puluhan kali sudah terowongan demikian ambruk hingga mengubur hidup-hidup mereka. Itu terjadi antara lain juga karena dihajar Israel. Angkutan dengan gerobak juga menjadi pemandangan sehari-hari. Sebuah kehidupan yang sulit dibayangkan masih terjadi di abad ke-21 ini.

Angkutan di Gaza

Tak heran bila banyak yang menyebut perlakuan Israel terhadap warga Gaza sebagai ‘holocaust’. Sebuah istilah yang dipakai untuk menggambarkan pembantaian orang-orang Yahudi oleh Nazi Jerman pada 1940-an. Saat itu, pemerintah Hitler bergerak menghabisi orang-orang Yahudi, antara lain dengan kamar-kamar gas. Israel tidak menewaskan segera warga Gaza, tetapi menyiksa mereka, membiarkan kelaparan, dan menindas kemanusiaan hingga titik terendah.
Dalam sejarah Eropa, selama berabad-abad Yahudi digilas oleh Nasrani. Kekuasaan Muslimlah yang melindungi mereka, seperti di Andalusia. Sinagog dan perkampungan Yahudi di pusat kota Cordoba menjadi saksi sejarah perlindungan Muslim terhadap Yahudi Eropa saat itu. Ketika kemudian Yahudi dan Muslim digilas dalam peristiwa inkuisisi Spanyol pada abad ke-15 dan 16, salah satu tragedi paling kejam dalam sejarah pembantaian umat manusia atas nama agama, Kesultanan Turki-lah yang menampung dan menyelamatkan mereka.

Trauma masa lalu Yahudi atau balas dendam yang salah alamat?

Namun kini, Zionis Yahudi yang mengendalikan negara Israel menjadi ‘Hitler’ yang melakukan inkuisisi atau ‘holocaust’ terhadap warga Gaza. Penembakan para aktivis sosial di kapal Mavi Mermara yang hendak memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga Gaza, hanya sebuah sisi kecil dari ‘holocaust’ besar atas Gaza. Sejarah mengajarkan bahwa ‘sayap biadab’ Bani Israil memang sudah ada sejak generasi pertama. Yakni, sejak Yehuda bersaudara membuang adiknya sendiri, Yusuf (Sang Nabi), ke sumur. ‘Sayap biadab’ itu terus ada dan akan selalu ada.

Selama ini tidak ada langkah dunia, apalagi umat Islam, yang efektif untuk menghadapi kebiadaban itu. Negara-negara Arab, yang sering menjadi rujukan dalam pemahaman dan praktik beragama, sudah terkapling-kapling menjadi milik penguasanya masing-masing. Tak ada yang lebih penting buat mereka sendiri selain mempertahankan kekuasaannya sendiri. Mesir yang ikut memblokade seolah tak terpengaruh tragedi Gaza. Umat umumnya beranggapan bahwa cuma Israel, sedangkan negara-negara Arab tidak berperan, dalam membuat Gaza sekarat seperti sekarang. Umat juga masih belum peduli untuk membangun peradaban universal. Padahal, kepemimpinan dalam membangun peradaban universal-lah, sebagaimana ditunjukkan Rasullah SAW, yang mampu menjadikan umat ini umat bermartabat dan merdeka dari segala bentuk penindasan.

Rakyat Indonesia terus mendukungmu wahai Palestina!

Gaza, semoga, semakin terasa dekat. Bukan karena menjadi korban ‘holocaust’ seperti sekarang. Gaza terasa dekat, mudah-mudahan, karena mampu menjadi simbol tanah bermartabat dan merdeka, terbebas dari segala bentuk penindasan.

Sumber : Resonansi, Harian Republika, Jum’at 4 Juni 2010.

Sumber foto : Getty Images, Associated Press, Harun Yahya-Atlas Penciptaan, VIVAnews.


Responses

  1. nice post
    di tunggu kunjungan baliknya😀

  2. satu kata, “biada”b untuk Israel

  3. maaf mau mengomen gambar tentang rakyat indonesia yang sedang mendukung palestina.,.,di dalam gambar tersebut terdapat replika masjid.,.,mungkin qlo saya tidak salah mereka mereplika kan masjid al aqso.,tpi kenyataannya yg mereka replikakan adalah Qubbatus Shakrah (Kubah Batu/ Dome of The Rock) untuk lebih jelasnya bisa di lihat di sini https://halaqohdakwah.wordpress.com/2008/07/23/yang-manakah-masjidil-aqsa/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: