Oleh: halaqohdakwah | Januari 4, 2009

Ketika Dia Makin Menua

ibujo2Bukan tradisi Islam, tapi Hari Ibu mengajak kita untuk merenungkan bagaimana sikap kita terhadap ibu kita yang makin tua dan lemah.

“Seorang ibu berkata, apa mungkin anak saya sudah meninggal, karena tidak pernah datang ke panti jompo menengok saya.” Bukan cuplikan cerpen. Pernyataan diatas dikemukakan oleh peragawati senior Ratih Sang ketika suatu saat ia datang ke sebuah panti jompo untuk suatu acara amal. “Dia tampak kesepian. Di hari tuanya, dia seperti dijauhkan dari keluarga,” ujarnya.

Apa yang diceritakan Ratih adalah fenomena masa kini. Keluarga modern yang tidak ingin “direpotkan” manula dalam keluarga mereka – sebagian menerjemahkannya sebagai bentuk kasih sayang yang lain pada manula – mereka mengirimkan orang tua mereka yang sudah lanjut ke panti jompo.

Tidak ada yang salah dengan langkah ini. Namun alangkah baiknya juga orangtua manula ada di tengah kita. Bukankah ini kesempatan emas untuk berbuat baik pada orang yang sudah berjuang untuk kita, sebelum akhirnya usia mereka habis dan ajal datang menjemput?

Menghormat kepada orangtua terutama ibu kita adalah perintah agama. Dalam Alquran surat Luqman (31) ayat 14 Allah SWT berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.”

Dalam surat yang lain Allah SWT menegaskan, “Dan Tuhanmu memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al Isra [17]: 23).

Rasullah dan para sahabat terkenal sangat memuliakan manula, kendati mereka buka ibu kandungnya. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab RA yang ketika muda terkenal garang, berjumpa dengan seorang wanita di jalan. Wanita itu memohon Umar untuk berhenti, maka Umar pun tak hanya berhenti tetapi menghampirinya. Ia mendekat dan mendengarkan secara seksama.

Kemudian ada seseorang yang berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin! Engkau menahan perjalanan para pemuka Quraisy demi wanita tua itu?” Umar berkata, “Celaka engkau. Dia adalah wanita yang pengaduannya didengar Allah SWT dari atas langit yang tujuh. Demi Allah, seandainya dia tidak pergi dariku hingga malam, aku pun tidak akan pergi darinya.”

Penghormatan kepada ibu kita ditegaskan Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya, ketika seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi SAW menjawab, “Ibumu…, Ibumu…, Ibumu…, kemudian ayahmu, dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (HR muttafaqun alaih)

Tanggal 22 Desember biasanya diperingati sebagai Hari Ibu. Memang, ditilik dari sejarahnya, Hari Ibu yang kita peringati berbeda dengan Mother’s Day di banyak negara, yang lebih ditujukan untuk memberi puja-puji terhadap peran keibuan ibu dalam hidup kita.

Namun apapun, yang terpenting bagaimana kita memaknainya. Inilah saatnya kita bertanya pada diri kita, bagaimana kita menghormati dan menyayangi wanita yang telah menyabung nyawa demi kita di ujung usianya.

Tekadkan bahwa setiap hari adalah “Hari Ibu” bagi ibu kita, hari dimana kita mencurahkan segenap cinta dan perhatian untuknya. Selamat Hari Ibu!

Sumber : Dialog Jumat Tabloid Republika, 19 Desember 2008


Responses

  1. sedih banget si?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: