Oleh: halaqohdakwah | Desember 25, 2008

Pantang Lelah di Jalan Dakwah, Dai-Dai Tanpa Pamrih

sunJangankan uang saku atau gaji bulanan, uang tiket perjalan ke medan dakwah pun kerap kali harus dicari sendiri oleh sang dai. pengurus hanya memberikan pesan agar setiap dai bekerja sungguh-sungguh dan penuh keyakinan akan datangnya pertolongan Allah SWT.

“Kalau pesantren itu jadi, potong jari saya.”
Kalimat bernada meremehkan itu masih teringat jelas di telinga Nur Yahya Asa. Ketika dirinya hendak meregistrasi pembukaan pesantren Hidayatullah di Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, menjelang akhir 1993, seorang pegawai Pengadilan Negeri setempat melontarkan tantangan itu.

Nur Yahya hanya diam mendengarkannya. Pria kelahiran Cilacap 1971 silam ini sadar, dirinya hanyalah anak muda yang baru lulus pesantren setingkat SLTA. Bumi Rencong pun baru kali ini disambanginya setelah melalui perjalanan kapal laut dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Di sakunya, hanya tersisa uang recehan untuk bekal makan beberapa hari saja.

Di Aceh, tak ada satupun saudara, ulama, kenalan, atau orang berada yang bisa dijadikan sandaran untuk membangun pesantren itu. Mungkin karena itulah, pegawai pengadilan itu menyindir dengan kata-kata seperti itu. Namun Yahya tak patah arang. Cibiran, tantangan, maupun rintangan sudah biasa dihadapinya. Tekadnya sudah bulat untuk berdakwah dan membangun pesantren yang diamanatkan dipundaknya. Ia yakin Allah SWT akan membantu niat tulusnya ini.

Terbukti, empat bulan setelah peristiwa itu seorang penduduk mewakafkantanahnya seluas 21 x 180 meter di Dusun Cot Dua, Blang Kareeng, Nisam, Aceh Utara. Setelah tiga tahun, lahan itu terus bertambah menjadi 2,5 hektare. Selama enam tahun tinggal di Bumi Serambi Mekkah, keinginan Yahya akhirnya terwujud. Sebuah pesantren dengan pendidikan mulai TK sampai SLTA kini telah berdiri disana.

Sepenggal cerita diatas merupakan satudari ribuan kisah dai Hidayatullah yang dikirim ke berbagai pelosok Nusantara. Dengan semangat keikhlasan yang tinggi dan keyakinan yang mantap akan datangnya pertolongan Allah SWT, setiap juru dakwah ormas Islam itu berangkat menunaikan tugasnya.

Hidayatullah tidak pernah membekali dainya dengan materi. Jangankan uang saku atau gaji bulanan, uang tiket perjalanan ke medan dakwah pun kerap kali harus dicari sendiri oleh sang dai. Pengurus hanya memberikan pesan agar setiap dai bekerja sungguh-sungguh dan penuh keyakinan akan datangnya pertolongan Allah SWT. “Kita ingin membuktikan janji Allah SWT bahwa jika kau menolong agama Allah SWT, Allah SWT pasti menolong engkau,” kata ketua Umum DPP Hidayatullah Dr Abdul Mannan MM.

Di setiap tempat tugasnya, para dai ini diwajibkan berdakwah dari masjid ke masjid, dari rumah ke rumah, ataupun dari kantor ke kantor. Para dai ini juga diamanatkan untuk mendirikan sekolah, pesantren, atau panti asuhan.

Tatkala menjalankan dakwah, setiap dai Hidayatullah diharuskan menjalin hubungan baik dengan tokoh masyarakat, tokoh agama atau alim ulama, dan pemda setempat. Adanya perbedaan mazhab atau tata cara ibadah (fikih ibadah) di kalangan umat tidak menjadi penghambat. Setiap dai dituntut pandai menempatkan dirinya. “Kita lintas fikih dan lintas mazhab,” jelas Mannan.

Di lapangan, dai Hidayatullah dikenal sebagai juru dakwah yang menyejukkan. Ormas ini memang pernah diisukan terlibat jaringan terorisme di Indonesia. Namun seiring perjalanan waktu, tudingan yang muncul dari media Barat ini tak pernah terbuktikan. Yang ada justru pengakuan dari pemerintah terhadap eksistensi dan kerja para dai ormas ini. “Saya beri penghargaan tinggi kepada Hidayatullah karena menjadi ormas yang paling cepat tumbuh di masyarakat,” kata Wapres Jusuh Kalla.

Hidayatullah didirikan di Balikpapan pada 1 Muharram 1972 oleh Ustadz Abdullah Said. Ada pula yang mengatakan 1973. Awalnya berupa sebuah yayasan pesantren. Pendirian Hidayatullah ini murni sebagai perwujudan ide dari seorang anak muda lajang yang berasal dari Sulawesi Selatan. Modal awalnya nol koma nol. Karena itu di kalangan santri, Hidayatullah dikenal lahir tanpa ibu dan bapak.

Kala itu, pemuda berusia 20-an tahun ini merasa gusar melihat kondisi umat Islam yang mayoritas di negeri ini hidup termarjinalkan. Melalui diskusi dengan beberapa orang sahabatnya di kamar kos di Yogyakarta, yang berlanjut ke beranda-beranda masjid, gubuk-gubuk reot, dan akhirnya hutan belantara di Balikpapan.

Ustadz Abdullah tidak menyikapi kondisi memprihatinkan ini dengan sikap konfrontatif. Dia justru memilih jalan dakwah dari pintu ke pintu dan dari masjid ke masjid hingga ke pelosok negeri, serta menyantuni kalangan dhuafa. Kendati resikonya, ia harus menerima berbagai fitnahan dan cercaan.

Manna menceritakan semua itu dilakukan Ustadz Abdullah untuk membuktikan janji Allah SWT yang akan membantu manusia yang berjuang dijalan-Nya. Bahwa Allah SWT, Zat yang Maha agung dan Perkasa yang dulu memenangkan Rasulullah SAW adalah juga Allah SWT yang ada di Balikpapan, di Lembah Baliem Papua, di Hulu Mahakan, atau Gunung Kidul.

“Semua dilakukan dengan satu keyakinan itu,” ujarnya.

Delapan tahun lalu, Hidayatullah mengubah dirinya menjadi ormas. Kini, ormas Islam berbasis kader itu telah memiliki anggota sekitar 12 juta orang, ketiga terbesar setelah Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah.

Sumber : Dialog Jumat Tabloid Republika, 12 Desember 2008.


Responses

  1. salam kenal dari orang hidayatullah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: