Oleh: halaqohdakwah | Desember 16, 2008

Ambillah Waktu untuk Menangis

tear2

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan Air Mata sebagai pengingat hamba akan dirinya. Cukuplah ia menjadi penggerak kesadaran, betapa manusia dalam keadaan lemah. Saat ia terlalu bahagia, tanpa sadar ia menangis. Saat ia terlalu bersedih, tanpa sadar ia menangis. Saat itu, ia tahu dirinya tidak kuasa akan dirinya. Maka celakalah hati yang beku dan mata yang sulit untuk menangis…terutama jika ia adalah aktivis dakwah.

Terkadang target-target pencapaian dakwah ini beririsan sangat besar dengan kenikmatan dunia. Ia bisa mewujud kedalam kekuasaan, jabatan, dan kelapangan harta. Mengelola dakwah untuk pencapaian tersebut, sering melalaikan kita dari substansi dakwah. Tuntutan kerja yang profesional, diartikan dengan pola kerja rapi, terstruktur, tepat waktu, dan sesuai dalam reward. Lalu perlahan-lahan kita terjebak dalam konteks kerja, dan terlepas dari konteks dakwah. Lepas dari konteks dakwah bukan hal substansial, melainkan dalam hal profesional.

Budaya kerja dakwah, masih sering terjebak dalam Sistem Kebut ’Sesaat’. Ketika waktu yang tersedia terasa singkat, kesadaran untuk mengejar target lahir mendesak. Akhirnya kerja memberikan kesan serabutan, tambal sulam, dan tergesa-gesa. Pada saat seperti itu, amal jama’i adalah pemahaman tanpa makna. Kerja dakwah menjadi sangat berorientasi target pencapaian dan miskin tausiah. Perlahan-lahan hati menjadi gerah, dan akhirnya miskin sentuhan dan kepekaan.

Realita dakwah menggambarkan kenyataan yang kontra produktif terhadap sunnatullahnya. Seharusnya seorang yang aktif dan memiliki mobilitas dakwah yang dinamis, semakin menikmati kedekatannya dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semakin lembut hatinya dan semakin kental ukhuwahnya. Di lapangan, kondisi yang terjadi justru terbalik. Mobilitas dakwah yang kita punya, mengurai jarak antara kita dengan ikhwah. Dinamika kita yang sedemikian pesat, menumpulkan hati dan perasaan dari getar kelembutan. Mata kita yang sering terjaga karena amanah, semakin kering dan tak mampu menangis lagi. Hal ini membuat kita harus mengevaluasi kembali, apakah dakwah yang sedang kita usung ini. Untuk siapakah semua ini kita korbankan.

Peralihan dakwah dari mihwar muassasi ke mihwar dauli, menyisakan pertanyaan tentang kesiapan kita akan fitnah yang ditimbulkannya. Sosok Utama, Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, menangis tersedu-sedu, membayangkan kekuasaan dan kejayaan Islam ketika Persia di taklukkan. Bukan karena bahagia akan kemenangan, melainkan khawatir akan kelalaian para da’i mujahid karena kekuasaan dan kekayaan. Jika sahabat mulia yang terjamin keimanan dan pengorbanannya untuk dakwah Islam, mengambil waktu untuk menangisi dirinya dan ummat yang dimudahkan Allah dalam Kemenangan, maka bagaimanakah lagi kita? Kita belum lagi membuktikan ketsiqohan kita kepada Allah, Islam, dan Dakwah. Kita masih sering menakar amanah dakwah kita dengan kepentingan dan kebutuhan hidup. Kita masih sering lalai dangan jadwal dan bekerja ’serabutan’. Tentulah kita yang paling layak banyak menangis.

Sesungguhnya para penghuni surga, dari kalangan sahabat yang Rasulullah kabarkan, adalah sosok-sosok lembut yang mudah berurai air mata. Jika mereka masih menjadi contoh hidup perjalanan dakwah kita, mari melihat kelemahan diri kita. Pada bagian mana jejak sejarah mereka kita abaikan. Sesungguhnya mereka menghabiskan waktu hidupnya lebih banyak dari yang kita mampu kita sumbangkan untuk dakwah. Mereka membelanjakan hartanya lebih banyak dari kita. Mereka memiliki loyalitas yang lebih luar biasa dari kita. Tapi mereka tetap zuhud dalam penampilan, lembut dalam kata, penuh kasih sayang, dan mencintai ikhwahnya dengan tulus. Dimanakah kita pada jejak sejarah dakwah mereka.

Jika kita tidak mampu mengejar semua keutamaan mereka. Maka minimal, ambillah waktu untuk menangis. Semoga Allah menyayangi kita yang mengakui kelemahan dan kelalaian yang banyak. Semoga Allah merahmati kita dengan air mata ketulusan. Semoga Allah menjadikan mata dan airnya sebagai saksi taubat dan penyerahan diri kita.

Wallahu’alam.

Sumber : Al-Izzah, Edisi No. 13/Th. 5/Mei 2005M


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: