Oleh: halaqohdakwah | November 14, 2008

Menikah Tanpa Memandang

bahagiaOleh : Asma Nadia
Dinukil dari buku : Catatan Hati Seorang Istri

“Betapa kagetnya saya… karena perempuan itu sama sekali tidak cantik!”

Saya sungguh tidak mengerti laki-laki, atau isi kepala mereka. Seperti sosok didepan saya. Seorang kawan, yang mengajak saya dalam satu proyek event organizer untuk acara parenting.

Sepanjang perjalanan ke lokasi acara, d atas bis, lelaki itu menceritakan sesuatu yang sebenarnya terbilang prbadi dan membuat saya sungkan.

Dia dan istrinya sudah lama menikah. Dari pernikahan itu telah lahir empat orang anak yang sungguh menghibur. Setidaknya dia selalu tampak bahagia jika bercerita tentang anak-anak.

”Tapi pernikahan saya tidak bahagia,” cetusnya tiba-tiba.

Saya kaget mendengarnya. Tetapi ternyata itu belum apa-apa dibanding kekagetan saya saat mendengar kalimat berikut yang meluncur dari mulut lelaki berusia 35-an itu.

”Saya tidak pernah mencintainya.”

A…apa maksudnya?

Saya pernah bertemu istrinya dan sekejap bisa melihat kesalihan dan komitmen perempuan itu mengasuh anak-anak, dengan tangannya sendiri. Keluarga mereka, meski sederhana terlihat cukup bahagia, setidaknya menurut pengamatan sepintas saya.

Lalu meluncurlah kisah dari lisan lelaki yang awalnya cukup saya hormati karena komitmennya dalam dakwah, bahkan tergolong senior di kalangan ikhwan (aktifis keislaman).

”Saya ingin ikhlas ketika menikah. Karenanya…”

Saya memasang wajah tidak bersemangat, berharap lelaki itu berhenti. Sebab rasanya tak pantas dia menyampaikan hal yang tergolong pribadi itu kepada orang luar dan perempuan pula.

”Karenanya saya memutuskan tidak melihat wajah istri ketika kami berproses.”

Lelaki itu mengalihkan pandangan ke beberapa penumpang yang naik dan membuat bis semakin penuh sesak.

”Saya baru melihatnya setelah di pelaminan.”

Ya, saya pernah mendengar kisah dari guru mengaji saya maupun beberapa teman, tentang trend menikah di mana ikwan memutuskan tidak melihat calon istri. Pernikahan dengan guru ngaji sebagai perantara. Sama seperti mediator yang kadang dibutuhkan dalam perjodohan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu.

Umumnya mereka diberikan foto, jadi bisa memiliki gambaran tentang wajah calon istri. Tetapi ada juga yang bercerita, bahwa kebalikan dari situasi muslimah yang kerap tidak punya pilihan hingga laki-laki yang kemudian melamar adalah satu-satunya calon yang muncul, para ikhwan justru seringkali mendapatkan banyak penawaran pada detik mereka memutuskan akan menikah.

Penawaran dan banyak alternatif foto, yang kemudian membuat sebagian aktifis muda itu mungkin agak sungkan, seperti teman di hadapan saya yang lalu berusaha ’ikhlas’.

Saya pernah mendengar cerita bagaimana beberapa ikhwan membalikkan atau menutup foto-foto muslimah yang disodorkan kepada mereka, untuk kemudian menunjuk salah satu, tanpa melihat lebih dulu. Awalnya, cerita ini membuat saya salut, sungguh. Menikah tanpa melihat wajah dan fisik. Sesuatu yang makin langka, di jaman sekarang.

”Jadi saya baru melihatnya ketika kami di pelaminan,” lelaki itu menyambung kalimatnya dengan nada murung, ”betapa kagetnya saya… karena perempuan itu sama sekali tidak cantik!”

Tidak cantik dan karenanya tidak bisa mencintai?

Tapi mereka dikaruniai empat orang anak, bagaimana mungkin?

Mudah-mudahan saya tidak subjektif ketika menilai raut istrinya yang di mata saya tergolong manis. Sungguh perkataannya membuat saya seketika ingin protes.

Lihat Rasullah yang bersedia menikahi perempuan yang 25 tahun lebih tua darinya, bahkan ada yang lebih tua lagi dari itu!

Lihat para sahabiyah… perempuan yang menerima pinangan Bilal Bin Rabah!

Tetapi saya pun mengerti, betapa berlikunya jalan menuju keikhlasan. Betapa berat menjaga suasana hati yang sudah terkondisi agar tidak terkotori.

Karenanya, saya tetap menghormati sikap si teman yang tidak melarikan diri, dan tetap berusaha menjadi ayah yang bertanggungjawab bagi anak-anaknya.
Dan tentu saja siapapun tidak boleh dan tidak berhak menghakimi. Meski jika dibenarkan, ingin sekali saya meninjunya.

Depok, September 1999


Responses

  1. Menikah itu adalah masalah keimanan…

    sejauh mana ia berkomitmen dan kemudian siap untuk menyempurnakan separuh agamanya…

    http://www.mentoringgaul.wordpress.com

  2. Memang ada sekelompok orang yang menganggap sepele pernikahan dengan berspekulasi dalam memilih pendamping hanya dengan bekal keikhlasan. Tapi apalah artinya bila ‘bekal keikhlasan’ itu justru nantinya hanya akan membuat dirinya mencela Allah dengan mengatakan bahwa perkawinannya tak bahagia atau menyesali wajah sang pendamping.

  3. Do not judge a book by it cover.. apa lah artinya wajah cantik jelita bila tidak bisa mengurus keluarga dan tidak membawa berkah .Wajah cantikpun nantinya akan tua dan keriput.
    Mudah-mudahan beliau diberi petunjuk untuk bisa bersyukur…:)

  4. Karunia Allah yang terbesar adalah saat kita memakai nikmatnya pada saat yang tepat. Memandang sesuatu pada saat dan tempat yang tepat pasti berbeda dengan mengumbar pandangan. Tetaplah konsisten bagi yang punya pendirian menjaga pandangan. Tidak cantik ? Tidak sesuai harapan ? Semua relatif…

  5. No problem tak memandang, bukankah lebih nikmat melepas pandangan pada saat dan tempat yang tepat. Cantik relatif…

  6. aku pribadi lebih memilih yang biasa2 saja namun pandai ngurus rumah tangga dan anak2
    dari pada cantik tapi tidak pandai ngurus anak2 apalagi suami
    gawat kalau sudah begini

  7. Saya pernah beranggapan bahwa tingkat tarbiyah seseorang ternyata belum tentu sama dengan kualitasnya di hadapan Allah. Seseorang yang bersungguh-sungguh untuk memahami agar bisa taat jauh lebih baik dibanding seseorang yang taat minus kepahaman.

  8. wajah memang perlu untuk di perhitungkan karna keindahan adalah hal yang membuat laki laki nyaman


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: