Oleh: halaqohdakwah | September 9, 2008

RAHASIA PUASA

Puasa itu ada tiga tingkatan: shaumul umum, shaumul khusus, dan shaumul khususil khusus. Shaumul umum, puasa yang sering dilakukan oleh orang awam pada umumnya, adalah menahan perut dari nafsu makan dan kemaluan dari nafsu syahwat. Sedang shaumul khusus, puasa yang dilakukan oleh orang-orang tertentu, adalah menahan pendengaran, penglihatan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.

Sementara shaumu khususil khusus (puasa yang lebih khusus lagi), adalah shaumnya hati dari keinginan rendah dan pikiran duniawi serta menjaganya secara totalitas dari masuknya unsur-unsur yang bukan karena Allah SWT. Jadi, sudah dianggap berbuka (batal) manakala muncul pikiran selain Allah dan tujuan selain hari akhir, serta pikiran dunia. Kecuali dunia yang dimaksudkan untuk akhirat sebagai bekal hidup kelak di sana, bukan duniawi semata. Puasa tingkat ini dilakukan para Nabi, orang-orang yang benar-benar shidiq (ash-shidiqiin), dan orang-orang yang amat dekat dengan Allah (al-muqarrabiin). Ini, tak perlu lagi dibahas panjang lebar, yang penting adalah wujudnya dalam amalan nyata. Yaitu, maksimal menghadapkan jiwa dan raga sepenuhnya kepada Allah ‘azza wajalla dan berpaling dari apa saja selaninNya, sambil mengenakan makna ayatNya : “Katakanlah: Allah, kemudian biarkanlah mereka bermain-main dengan kesesatan”.

Adapun shaumul khusus, yaitu puasanya orang-orang shalih (ash-shalihin), adalah menahan semua anggota badan dari dosa. Untuk mencapai kesempurnaan puasa tingkat ini, ada enam perkara :

1. Gadhdhul Bashar ( Menundukkan Pandangan )

Menjaga dan menahan pandangan agar tidak jatuh dalam memandang yang haram dan hal-hal yang dapat mengganggu hati dan membuat lupa akan dzikir kepada Allah ‘azza wajalla.

Rasullah bersabda : “Selintas pandangan maksiat adalah satu diantara anak panah beracun iblis. Barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah anugerahkan ke dalam hatinya iman yang ia rasakan manisnya.”

2. Hifdzul Lisan ( Menjaga Lidah )

Memelihara lidah dan menjaga dari bicara asal ngomong (ngawur), dusta, ghibah, mengadu domba (namimah), bicara kotor, menyinggung perasaan, caci maki, dan berbantah-bantahan. Kiatnya, membiasakan banyak diam, sibuk dzikurullah, dan banyak baca Al-qur’an. Inilah yang dimaksudkan dengan shaumul lisan. Pantas jika imam sufwan berkata : “Ghibah itu membatalkan puasa.” Mujahid berkata : “Dua hal yang membatalkan puasa : ghibah dan dusta.”

Rasullah SAW bersabda : “Puasa itu adalah benteng. Jika seseorang dari kamu berpuasa, maka janganlah bicara kotor dan ngawur. Dan jika ada orang yang mengajaknya berkelahi atau memaknya, ia berkata : saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Kaffus Sam’i ( Menjaga Pendengaran )

Menjaga dan mendengar telinga agar tidak mendengarkan sesuatu yang terlarang (haram). Karena setiap yang haram dibicarakan, haram pula untuk didengarkan. Oleh sebab itu, Allah SWT menyamakan antara orang yang suka mendengar berita bohong dan orang yang suka makan haram, sebagimana firmanNya :

“Mereka itu, orang-orng yang suka mendengar berita bohong lagi banyak makan yang haram” (QS. 5:42).

“Mengapa pendeta-pendeta mereka dan orang-orang ’alim mereka tidak melarang mereka berkata bohong dan memakan yang haram” (QS. 5:92).

Bersikap diam (ikut nimbrung) atau ghibah adalah haram. Allah berfirman:

“Maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka bicara yang lain. Kalau kamu ikut duduk-duduk bersama mereka, berarti kamu sama dengan mereka” (QS. 4:14).

4. Kaffu Baqiyatil Jawarih ( Menjaga Anggota Badan yang Lain )

Menjaga atau memelihara semua anggota badan yang lain dari segala perbuatan dosa. Menahan tangan dan kaki dari hal-hal yang haram. Dan tatkala berbuka hendaknya menjaga perut dari masuknya sesuatu yang syubhat. Apa artinya puasa (menahan makan yang halal sepanjang siang hari) lalu berbuka dengan yang haram. Orang seperti itu adalah bak orang yang membangun gedung megah lalu menghancurkannya seketika.

Makanan yang halal hanyalah membahayakan manakala kebanyakan, bukan karena jenisnya. Nah, puasa adalah upaya untuk menguranginya. Adalah tolol orang yang tidak mau makan obat melebihi dosisnya karena takut efek negatifnya, lalu menggantinya dengan minum racun.

Yang haram itu adalah racun. Karena merusak din. Sementara yang halal itu obat, berguna sesuai dengan dosisnya yang sedikit dan berbahaya kalau over dosis. Jadi, tujuan puasa adalah mengurangi makanan yang halal itu, supaya tidak sampai kebanyakan.

Rasulullah SAW bersabda : “banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali lapar dan dahaga” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Maka adalah ulama yang berkata, berkaitan dengan hadits tersebut, itu orang yang berbuka dengan yang haram: yaitu orang yang menahan makan halal tapi berbuka dengan daging orang lain dengan cara menghibahnya. Dan ada lagi yang berkata, yaitu orang yang tidak memelihara anggota badannya dari dosa.

5. Alqoshdu Fil Ifthor ( Sederhana dalam Berbuka )

Tidak berlebihan dalam menyantap makanan pada saat berbuka dengan melampiaskan semua nafsu dan selera. Perut harus tetap dijaga agar tidak sampai kepenuhan. Sebab tidak ada bejana yang lebih dibenci oleh Allah dari pada perut yang penuh sesak dengan makanan yang halal.

Disamping itu, tentu puasa itu tidak bermanfaat. Tidak akan mampu menaklukkan musuh Allah dan mengalahkan syahwat. Jika sesuatu yang telah dilewatkan di siang hari disantapnya semua, atau bahkan ditambah dengan aneka menu yang beragam. Sehingga, kita saksikan, timbul kebiasaan menimbun banyak bahan makanan untuk Ramadhan. Yang terjadi, di bulan puasa makan dan minum lebih istimewa daripada bulan-bulan yang lain. Bagaimana puasa yang demikian bisa berfungsi?!

Padahal jelas, bahwa maksud puasa adalah mengosongkan perut demi menundukkan hawa nafsu untuk menggapai derajat taqwa. Kalau nafsu perut sudah mendesak sejak siang hingga malam sampai klimaksnya dan selerapun tidak bisa ditahan lagi lalu diisi dengan kelezatan yang serba wah, tentu rasa nikmat melebihi segalanya dan potensi syahwatpun bertambah. Maka yang terjadi, barangkali, nafsu yang sebelumnya biasa-biasa saja, kini justru bangkit menjadi-jadi.

Ruh dan esensi puasa adalah terletak pada fungsinya sebagai pengecilan potensi yang merupakan sarana setan untuk merealisasikan kejahatan. Tentu usaha pengecilan itu tak mungkin berhasil, kecuali jika pada malam harinya –tetap seperti biasa- menyantap makanan ala kadarnya, bahkan, seharusnya sesuai dengan adab shaum, tidak banyak tidur di siang hari. Sehingga terasa adanya lapar dan haus, serta lemahnya tenaga, nafsu dan syahwat. Dengan demikian sucilah hati dan jiwa. Lalu berlangsung kondisi itu terus disetiap malam, sehingga membuat ringan untuk bertahajud dan berdzikir. Nah, pada saat itulah ada harapan kuat setan tak akan mampu merambat masuk kedalam hati. Karena jiwa sepenuhnya terpaut –berkonsentrasi penuh- dengan alam langit (ghaib) yang Maha Agung. Dan Lailatul Qodar adalah kesempatan, dimana pada malam itu tersingkap sebagian dari keagungan alam ghaib itu. Sebagaimana firman Allah ‘azza wajalla :

“Sesungguhnya telah Kami turunkannya pada lailatul qodr. Tahukah kamu, apa lailatul qodr itu? Yaitu, malam yang lebih baik dari pada seribu bulan.” (QS. 97:1-3).

Maka barang siapa yang menjadikan antara hati dan dadanya penuh dengan makanan, ia akan terhalang untuk menggapai kemuliaan itu. Dan barang siapa yang telah mengosongkan perutnya, itupun belum cukup untuk menghempaskan hijab (penghalang) tersebut, sehingga ia mengosongkan hatinya dari seluruh motivasi selain Allah. Dan yang terakhir inilah yang terpenting, yang kiat dasarnya adalah menekan makan.

6. Alqolbu Baina Raja’ wal Khauf ( Rasa Optimisme dan Pesimis )

Setiap kali hendak berbuka hendaknya timbul kekuatiran, antara khauf (takut kalau-kalau puasa tdak diterima) dan raja’ (penuh harap dikabulkannya puasanya). Karena ia tidak tahu pasti, apa puasanya diterima dan dengan demikian jadilah ia termasuk orang-orang yang taqwa (muttaqiin), atau puasanya ditolak dan masuklah ia kedalam golongan orang-orang yang dilaknat.

Seperti itulah seharusnya seseorang setiap kali selesai menunaikan ibadah kepada Rabbnya.

Diriwayatkan dari Hasan Al-Bashry ia melewati suatu kaum yang sedang tertawa-tawa (di bulan Ramadhan), maka beliau berkata: “Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai medan perlombaan bagi hambaNya untuk taat kepadaNya. Ada kaum yang berpacu dengan kencang di depan, maka mereka meraih kemenangan. Ada pula kaum yang santai tinggal di belakang, maka mereka menderita kerugian. Tapi yang amat aneh, bagi mereka yang tenggelam dalam senda gurau pada saat orang-orang yang berpacu sampai di depan meraih kemenangan dan orang lain yang tak berbuat (membatalkannya puasanya) menderita kekalahan”.

Abu ad-Darda’ berkata: “Betapa elok tidur dan berbukanya orang-orang yang cerdik pandai. Bagaimana mereka tidak geli melihat puasa dan begadangnya orang-orang yang pandir.” Ibadahnya orang-orang yang yakin (berilmu) dan bertaqwa kendatipun sebesar atom niscaya lebih bernilai dan lebih berat daripada ibadahnya orang-orang lengah meski tampak segede gunung. Oleh karena itu, ada ulama yang berkata: “Banyak orang yang puasa tapi tidak puasa, tapi orang yang tak puasa tapi berpuasa.”

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya puasa itu amanah, maka hendaknya seseorang itu memelihara amanahnya.”

Dinukil dari: Almustakhlash fii tazkiyatil anfus, Said Hawa, hal. 62-64 oleh: Muhammad Syamlan, LIPIA. Ishlah. No. 20 Tahun II.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: