Oleh: halaqohdakwah | Agustus 23, 2008

Penting Bagi Setiap Muslim Memahami Islam

Sumber : Harian Republika. 22 Agustus 2008

Suara siapakah yang mewakili opini umat Islam sesungguhnya? pertanyaan besar ini dijawab John L Esposito, pakar studi Islam dan hubungan internasional dari Goergetown University, Washington DC, AS. Bersama rekannya, Dr Dalia Moahed, Esposito mengolah hasil survey Gallup World selama enam tahun.

Yang ingin mereka tangkap adalah suara mayoritas tersembunyi dari 1,3 miliar Muslim di dunia, yang kerap tenggelam ditimpa kutub-kutub ekstrim. Hasilnya dirangkum dalam buku : Saatnya Muslim Bicara : Opini Umat Muslim tentang Islam, Barat, Kekerasan, HAM, dan Isu-isu Kontemporer Lainnya.

Karena cukup banyak kejutan, Esposito menilai buku itu mestinya bisa membuka pikiran bangsa Barat yang memiliki pandangan stereotip tentang Islam.

Dua pekan lalu, atas undangan Mizan –yang menerbitkan buku itu- Esposito berkunjung ke Indonesia. Dalam lawatannya yang hanya semalam, Yeyen Rostiyani dari Republika berkesempatan mewawancarainya dalam perjalan pulang menuju Bandara.

Bagaimana kondisi hubungan Muslim dan Barat saat ini dibanding sesaat setelah tragedi 11 September?

Masih sulit. Anti-Amerika masih kuat. Banyak orang di dunia Islam berpikir, kebijakan AS, termasuk juga Eropa, menentang Islam dan Muslim, bukan hanya terhadap teroris.

Sikap orang AS terhadap dunia Islam-seperti diungkap survei Gallup-ketika ditanya apa yang dikagumi dari Islam, 77 persen menyatakan tidak ada, atau tidak tahu. Ditanya apa yang paling mengganggu mereka, jawabnya ekstremisme dan fundamentalisme. Jadi situasinya masih belum bagus. Yang terus membuatnya buruk adalah kebijakan pemerintahan Presiden Bush, yang menurut saya ini menjadi bencana.

Setelah tragedi 11 September, pada tahun pertama dan kedua, hubungannya justru lebih baik. Orang Amerika lebih bersikap positif terhadap Islam. Namun sekarang, dalam tiga sampai empat tahun terakhir cenderung lebih buruk karena kekerasan terus terjadi dan pelakunya mengklaim sebagai Muslim.

Bagaimana memperbaikinya?

Buku ini meng-counter banyak stereotip Islam dan retorika anti-Muslim yang disebut Islamfobia. Karena, isinya bukan menunjukkan tentang konflik antara Islam dan Barat, antaragama, atau benturan peradaban, namun tentang kebijakan luar negeri, khususnya AS dan Eropa.

Jadi, ini menekankan bahwa agama bukanlah penyebab utama, meski dalam ekstremisme atau fundamentalisme sekalipun. Namun, bukan berarti agama tidak digunakan orang untuk mendapatkan pendukung dan legitimasi.

Buku ini juga menunjukkan mayoritas Muslim menyesalkan sikap Barat terhadap Islam serta standar ganda AS dalam mempromosikan demokrasi. Sebaliknya, mereka juga mengagumi beberapa hal dari AS. Misalnya, teknologi, etika kerja, kebebasan, penegakan hukum, dan mereka pun mengharapkan semua itu untuk mereka.

Sebaliknya, pesan kepada Barat, buku ini menceritakan bahwa Muslim tidak membabi buta terhadap sikap anti-Barat. Justru, data menunjukkan dengan jelas bahwa mereka membedakan antara AS dan Inggris, dan negara Muslim lainnya. Bahkan, lebih jauh, membedakan antara Bush dan Blair (mantan PM inggris, Tony Blair).

Jadi, sikap negatif Muslim terutama ditujukan pada kebijakan Presiden Bush dan kebijakan luar negerinya. Ketidaksukaan Muslim sangat fokus pada hal-hal tertentu.

Masyarakat Barat sendiri bagaimana? Mereka juga fokus-pada hal-hal tertentu-dalam bersikap terhadap Muslim, Islam, dan dunia Islam?

Sebagian komunitas Barat berpikir, mereka (Muslim) tidak suka Barat karena cemburu pada demokrasi, kesejahteraan, dan keberhasilan Barat-termasuk isu gender. Setelah tragedi 11 September, salah satu area yang disorot adalah wanita Muslim. Padahal survei kami menunjukkan bahwa Muslimah-bahkan ada Muslim-yang yakin bahwa wanita pun harus memiliki kesetaraan hak, pendidikan dan kesempatan kerja.

Jadi, ini memutar balik anggapan Barat selama ini. Ada perbedaan yang besar antara posisi wanita Muslim di bawah kepemimpinan Taliban dan Muslimah di belahan lainnya.

Lantas, apakah agama dapat dikatakan sebagai salah satu sumber konflik?

Memang, ada kasus tertentu dimana semua agama menjadi sumber konflik, namun seringkali juga menunjukkan bawa ada ketidakadilan yang berdimensi politis dan ekonomis dalam konflik tersebut. Lalu, agama menjadi cara untuk melegitimasi dimensi itu.

Muslim meyakini Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Namun, mengapa sejumlah konflik dan kekerasan justru melibatkan komunitas Muslim?

Ada beberapa hal. Banyak negara muslim yang masih memiliki rezim otoriter. Ada gap ekonomi yang lebar antara si miskin dan si kaya. Jadi, ada tingkat kekecewaan yang tinggi. Namun, sebagaian besar orang membiarkan semui itu berlangsung dengan alasan : tidak ada pilihan lain, karena pemerintahan memiliki pasukan keamanan dan militer.

Ada yang ingin menentang, namun banyak di antara pemerintahan tersebut tidak membolehkan oposisi. Akhirnya, kondisi ini menimbulakan pertentangan di dalam masyarakat. Kemudian, kemarahan itu juga meletup pada pihak di luar pemerintahan yang mendukung pemerintahan represif. Misalnya, warga Iran bereaksi negatif kepada Shah Iran dan pemerintah AS yang dinilai sebagai pendukung Shah.

Namun, agama juga bisa ’digunakan’ karena ada masalah internal dalam agama itu. Di tempat lain, ada pula teologi ekstrem, pemimpin keagamaan yang ekstrem. Jika terjadi perpaduan imam yang radikal dan teologi yang radikal, ditambah masalah sosial politik, maka bisa meledak. Ini yang kita lihat di Nigeria, Mesir, Tunisia, Pakistan.

Jadi, sepertinya cita-cita yang dicapai adalah hidup yang damai dan juga sejahtera diikuti dengan pergantian rezim, kebebasan yang lebih luas, lebih bayak kesempatan, serta perkembangan ekonomi.

Contohnya, Indonesia adalah negara yang sedang dalam transisi. Namun, bukan berarti tidak ada lagi masalah, karena di lain pihak rakyat memiliki harapan tinggi. Jadi, jika mereka kecewa dengan pemerintahan yang dipilih secara demokratis, maka kekecewaan yang muncul akan sama halnya seperti [kekecewaan] pada pemerintahan otoriter. Nah, pemerintahan Barat yang mendukung pemerintahan tersebut akan dipandang sebagai bagian dari masalah, bukan solusi.

Setelah tragedi 11 September, negara manapun, baik negara Muslim maupun Israel, menggunakan terorisme sebagai dalih untuk membungkam oposisi dengan menyebut ekstremis. Jadi, semua oposisi disebut ekstremis.

Jadi, masalahnya bukan pada nilai dalam Islam yang menyebabkan konflik itu?

Ya, betul!

Apakah karena mereka tidak memahami nilai Islam?

Ini soal politi dan kekuasaan. Setiap pemimpin tidak ada yang ingin kehilangan kekuasaan. Never! Kalau bisa, sampai maut menjemput, mereka tetap berkuasa. Lihat saja Suriah, Mesir, Libya. Itu juga alasan kelompok keagamaan ekstrem. Mereka menggunakan Islam. Padahal, mereka menginginkan kekuasaan, ingin menguasai pemerintahan. Lihat saja pertentangan di antara pemimpin agama sendiri : mereka bertentagan karena ingin menjadi yang paling penting.

Anda pernah mengatakan agar Muslim mempelajari lebih dalam agama mereka. Mengapa?

Ya, ini tidak hanya untuk Muslim, tapi juga bagi penganut Kristen. Survei kami menunjukkan, Muslim beranggapan bahwa keyakinan agama adalah hal penting. Mereka juga ingin masyarakat menerapkan nilai-nilai syariah. Nah, sekarang, untuk menghindari diri dari eksploitasi oleh pemimpin keagamaan, mereka harus memahami benar tentang Islam. Kalau tidak, mereka akan percaya begitu saja.

Untuk masalah ini, bukan lagi tentang Islam dan Barat, namun masalah di dalam Islam sendiri. Misalnya, mereka terkadang tidak hanya menyebut orang Kristen dan Yahudi sebagai kuffar, namun juga Muslim lainnya. Jadi, amat penting bagi Muslim lebih memahami keyakinannya.

Menurut saya, kadang pemerintah dan pemimpin keagamaan ingin menyetir keyakinan ini. Mereka merasa lebih terlatih dan lebih memahami, seperti dokter yang merasa lebih tahu dibanding pasiennya. Padahal, ada ulama yang memang berbakat, namun ada yang tidak. Ini juga terjadi di Kristen.

Ulama bukanlah satu-satunya yang memahami Islam, karena orang biasa pun bisa membaca Alqur’am dan hadis. Bahkan dalam Islam, fatwa mufti besar sekalipun tidak selalu harus diikuti. Bahkan, saya melihat perkembangan di Indonesia, meuncul cendikiawan uslim yang bukan ulama. Bahkan, banyak juga wanita yang memiki pandangan lebih baik.

Orang kerap berpandangan, karena orang menjadi ulama, maka mereka memiliki wewenang lebih besar. Padahal, Islam saja tidak mengajarkan demikian. (yyn)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: