Oleh: halaqohdakwah | Juli 14, 2008

Sentuhlah Dengan Menghadirkannya

Oleh : Wanda Yulianto

Seorang pemuda menemui Nabi SAW. Ia berkata, “Ya Nabi Allah, izinkan saya berzina!” Orang-orang berteriak mendengar pertanyaan itu. Tetapi Nabi SAW. Bersabda, “Suruh dia mendekat padaku.” Pemuda itu menghampiri Nabi dan duduk dihadapannya. Nabi berkata kepadanya, “Apakah kamu suka orang lain menzinai ibumu?” segera ia menjawab, “Tidak, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.” Nabi SAW. Bersabda, “Begitu pula orang lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada ibu-ibu mereka.” “Sukakah kamu jika perzinaan itu terjadi pada anak perempuanmu?” “Tidak, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.” “Begitu pula orang lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada anak perempuan mereka.” “Sukakah kamu, jika perzinaan itu terjadi pada saudara perempuanmu?”

Begitulah Nabi SAW. Menyebut bibi dari pihak ibu dan pihak bapak. Untuk semua pertanyaan Nabi, pemuda itu menjawab, “Tidak!” Rasulullah SAW. Meletakkan tangannya yang mulia pada dada pemuda itu seraya berdoa, “Ya Allah, sucikan hatinya, ampuni dosanya, dan peliharalah kehormatannya.” Setelah itu tidak ada yang paling dibenci pemuda itu selain perzinaan. (Syaikh Rasyid Ridha, Al-Manar, 4:33)

Suatu hari, di pinggiran kota Bandung, seorang adik dalam sebuah mentoring bertanya ke kakak mentornya. Ia berkata, “kak, izinkan saya pacaran!” adik-adik peserta yang lain berteriak mendengar pertanyaan itu. Tetapi sang kakak mentor dengan tersenyum dan berkata kepadanya, “Dik, didalam islam itu tidak ada pacaran!” Sang kakak dengan tegasnya memberikan jawaban, sambil mengingatkan materi yang dahulu pernah disampaikannya yang kemudian disertai dengan sedikit penjelasan singkat.

Cara Kakak mentor ini menjelaskan banyak, bahkan boleh jadi kebanyakan cara mentor kita menjawab pertanyaan adik mentornya. Langsung To the Point pada pemahamannya yang mungkin sangat saklak bahkan boleh jadi sangat melangit untuk sebuah jawaban. Sangat berbeda dengan cara Rasulullah saat menjawab, Ia bukan saja membayangkan pikiran atau perasaan orang lain. Ia melibatkan seluruh dirinya dalam pengalaman orang lain itu. Ia mengalaminya sendiri. Martin Buber, filosof eksistensialis, menyebutnya making present (menghadirkan).

Para filosof islam telah lama membahas sejenis ilmu “Menghadirkan”, yang mereka sebut ilmu hudhuri. Kita dapat mengetahui keberadaan tuhan dengan bukti-bukti `aqli maupun `naqli. Tetapi, pengetahuan ini tidak akan mempengaruhi kehidupan kita. Hanya, ketika kita merasakan atau mengalami kehadiran tuhan, seluruh eksistensi kita akan mengalami perubahan.

Saya jadi ingat sebuah cerita tentang seorang pemuda yang baru mau belajar tasawuf, mau mengungkap cahaya ilahi. Jadi dia datang menemui gurunya. Gurunya memberikan pelajaran yang pertama. Pemuda itu rajin shalat malam dan pada shalat malam tentu dia bacakan ayat-ayat Al-Quran. Kata gurunya, “Nanti kalau kamu shalat malam, bacalah Al-Quran dan bayangkan aku guru kamu mendengarkan dihadapanmu. Biasanya dia selalu khatam. Setiap kali shalat malam dia khatam Al-Quran, biasanya begitu. Lalu akhirya dia mulai membaca dan menghadirkan sosok gurunya. Esoknya dia lapor, “Guru saya hanya bisa sampai satu juz saja, saya tidak bisa menyelesaikan seluruh Al-Quran,”. Kata gurunya, “Sekarang bayangkan oleh kamu, nanti ketika kamu shalat malam, ketika kamu membaca ayat Al-Quran bayangkan kamu membaca dihadapan para sahabat nabi.” Lapor lagi dia kalau satu juz pun tidak selesai. Pada hari yang ketiga ia dianjurkan untuk melakukan lagi shalat malam dan membayangkan bahwa dihadapan ada Rasulullah SAW mendengarkan bacaan Al-Quran. Lalu anak itu lapor keesokan harinya, “Hampir saja Al-Fatihah pun tidak selesai.” Yang terakhir dia dianjurkan untuk membayangkan di hadapannya Allah SWT mendengarkan bacaan Al-Quran. Padahal kita semua tahu kalau kita shalat, kita berhadapan dengan Allah SWT. Keesokan harinya dia tidak datang lagi untuk melapor. Dan gurunya mendengar kabar bahwa dia jatuh sakit. Ketika dikunjungi katanya semalam dia hanya sampai membaca `Iyya kana’buduwa Iyya kanasta’in..” lalu dia pingsan, dia tidak sanggup lagi menanggungnya. Dan akhirnya Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Dia tidak sanggup menanggung kehadiran Allah SWT pada waktu membaca AL-Quran atau mungkin pemuda itu terlalu cepat ingin merasakan kehadiran Allah SWT atau gurunya terlalu cepat membimbing dia dan jiwanya tidak sanggup menanggungnya.

Dapatkah setiap orang “menghadirkan” pengalaman orang lain dalam dirinya? Tidak selalu. Secara potensial, setiap orang dibekali kemampuan untuk itu. Pada sebagiannya, potensi ini teraktualisasi. Pada sebagian lagi, potensi ini terabaikan sama sekali. Ketika Nabi SAW. Diberitahu akan bencana beruntun yang akan menimpa umat Islam sepeninggalnya, beliau tidak bisa tidur. Beliau dilaporkan tidak pernah tersenyum setelah itu. AlQuran menggambarkan pengalaman Nabi saw, dengan indah:

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS At Taubah : 128)

Pada diri Nabi, seluruh potensi “menghadirkan” itu teraktualisasi.

Sekarang apakah kita sedih, ketika puluhan orang meninggal akibat luapan lumpur LAPINDO, ketika tak terhitung pasien yang meninggal “dipulangkan” dari rumah sakit, karena tidak sanggup membayar pengobatan, ketika banyak sekali adik-adik kita sekolah meninggalkan sekolahnya dan membakar tubuh mereka pada terik matahari, hanya sekedar untuk bertahan hidup?

Sangat banyak pengalaman yang harus kita hadirkan dalam kehidupan ini. Dan memang harus kita akui betapa sulitnya “menghadirkan” pengalaman orang lain, walaupun dia saudara kita sebangsa dan setanah air. Apalagi bukan sebangsa dan setanah air (Red, Palestina, dll).

Wa Allahu a’lam bi al-showwab.
Semoga bermanfaat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: