Oleh: halaqohdakwah | Juli 14, 2008

Militansi Itu Endurance

Oleh : Reza Ervani

Dengan gaya bahasa yang indah, Buya Hamka bercerita tentang Sufyan bin Abdullah yang bergelar Abu ‘Amrah datang kepada Nabi Muhammad saw, meminta fatwa yang segenggam picing, tentang pendirian di dalam hidup. Abu Amrah minta diterangkan inti agama, yang jikalau utusan Allah itu mengajarkan kepadanya, dia tidak perlu bertanya kepada orang lagi. Maka turunlah sabda itu : Qul, Amantu Billahi, Tsummastaqim

Jika para khotib mengibaratkan da’wah sebagai marathon, mubaligh menganalogikannya dengan triathon, maka sungguh bahasa aslinya itu tidak tergantikan.

Maka tegaklah dengan teguh, istiqomahlah, laksana batu karang diujung pulau menerima hempasan segala ombak dan gelombang yang menggulung; setiap ombak dan gelombang datang, setiap itu pula ia membawa zat yang akan menambah kokoh dirinya.
(HAMKA, Pandangan Hidup Muslim)

Ketahuilah, godaan para aktivis bukan uang dan cinta, tapi melompat jauh sebelum kaki kuat berjalan.

Mengkonsumsi literatur-literatur harokah memang mengasyikkan, tak seperti sesaknya nafas ketika menyelami referensi-referensi dasar diniyah. Padahal dari ulama-ulama zaman-zaman awal itulah dasar-dasar langkah diletakkan, sehingga karena itulah kekuatan Fi Zhilalil Quran Sayyid Quthb muncul pada kombinasi yang serasi antara kontemplasi kontemporer dengan maroji’ ma’tsurah.

Pola sama pula yang menyebabkan generasi kita cepat lelah dalam majelis-majelis hafidzul Quran, tak seperti semangat menggebu dalam training-training pergerakan yang terlalu penuh dengan kepalan tangan ke langit, yang lama kelamaan tak ubah seperti yel-yel tanpa energi.

Semangat mengkaji, yang diteladankan Imam Bukhari yang sampai dua kali mengisi minyak lampunya sepanjang malam berganti sudah dengan mental copy paste dan plagiator. Menjadi semakin akut dengan komplikasi mental Al Walid ibn Uqbah ibn Abi Muith. Terus menjadi kronis dengan varian-varian dan derivatif semacam Al Lamz, An Nabz dan Jassa.

Militansi itu Endurance.

Jangan terlalu cepat ketika berbelok, karena bisa keluar dari lintasan, begitu ungkap sahabat : Ijlis bina’ nu’min sa’ah. Ada pula saat memilih urut-urutan rambu, tapi susunannya pun telah terang dan jelas :hikmah, mauizhoh hasanah barulah jadal, itupun dengan dua syarat : best and most gracious.

“Cobalah pasang dan susun jiwa kembali. Kembali ke dalam istiqomah, niscaya terbuka kembali hidayah. Niscaya hilanglah bayang-bayang dari sesuatu yang tidak ada hakikatnya itu … Niat hati hendak istiqomah, dan Tuhanpun memang menyediakan jalan yang mustaqim … Asal istiqomah tak pernah lepas, jalan itu pasti bertemu … ”
(HAMKA, Pandangan Hidup Muslim)

Lalu, kita tutup dengan lantunan bahasa langit yang indah itu :

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
(Al-Qur’an Surah Fushshilat ayat 30)

Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Allahu ‘Alam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: