Oleh: halaqohdakwah | Juli 14, 2008

Kader Da’wah, Antara Semangat dan Jebakan Formalitas

Oleh : Reza Ervani *)

Bismilahirrahmanirrahiim

Izinkan penulis dengan segala keterbatasannya merangkai sepatah dua patah kata tentang kita, para da’i, para penyeru yang sedang belajar melangkah dan menetapkan hati untuk istiqomah. Kita mulakan dengan ucapan Nabiullah Yusuf alahi salam tentang ia dan da’wahnya :

Katakanlah: “Inilah jalan ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.
(Al Quran Al Karim Surah Yusuf ayat 108..)

Merujuk ke Ibn Katsir, beliau menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada Nabinya untuk menyerukan kepada Jin dan Manusia bahwa inilah jalannya, dalam arti, cara dan Sunnahnya, berkonsentrasi menyampaikan bahwa tidak ada yang layak disembah melainkan Allah. Nabi menyerukan ini sebagai sebuah pengetahuan yang pasti, yakin, dan bukti-bukti yang nyata. Ia dan orang-orang yang ikut menyeru ke jalan Allah dengan pengetahuan yang pasti, yakin dan bukti-bukti yang nyata, baik bukti logis maupun bukti iman.

Ayat itu menyiratkan sebuah misi yang ditujukan langsung kepada ummat ini, yakni menyeru orang kepada Allah. Itulah syariat ummat ini, ud’u ila sabili robbik. Menyeru kepada jalan Allah. Dan semua yang melakukannya berada dalam satu barisan yang sama.

Ayat itu juga menyiratkan sebuah metodologi misi yang membedakannya dengan misi orang-orang yang lain (menggembala domba-domba yang sesat, misalnya), yakni ’ala bashirah, diatas hujjah yang nyata, pengetahuan yang jelas, bukti yang nyata dan meyakinkan, tak semata-mata doktrintif.

Sebuah pertanyaan kemudian adalah bagaimana mungkin seorang da’i menyeru kepada bukti-bukti tertentu, jika ia sendiri belum melihat terang dimatanya bukti-bukti itu. Tampak disini kemudian korelasi istilah-istilah Quran tentang Ulil Albab, misalnya, menemukan muara, yakni menyaksikan kebenaran tanda-tanda kebesaran Allah, tersentak sujud karenanya, mensucikanNya, untuk kemudian barulah ia bergerak Menyerukannya !!

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Al Quran Surah Ali Imran ayat 190 – 191)

Mereka yang berada di garis depan da’wah ini, siapa saja, telah pula mengalami ”perjalanan spiritual” ini. KH. Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, Buya Hamka, Hasan Al Banna, Syekh Ahmad Yasin, Harun Yahya atau siapa saja, menyeru karena mereka telah menyaksikan, sungguh tidak ada bukti yang lebih jelas, terang dan benar dari bukti-bukti ini.

Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka Barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu). (Al Quran Surah Al An’aam ayat 104)

Zaman bergulir, masa berganti, tapi tak boleh misi ini kabur dari ajaran agama. Taklah bisa agama dipisahkan dari misi ”menyampaikan” ini, sebagaimana hendak dicoba gulirkan oleh orang-orang yang mengaku modern di zaman ini. Tak boleh, sungguh tak boleh … karena inilah yang kita kenal sebagai salah satu yang harus diteguhkan dalam agama, bagian Tsawabit dalam Agama.

Tapi tak boleh pula pemeluk agama ini berkutat dalam ”kejumudan”, agama tak menutup pintu inovasi dan kreasi, selama tak jatuh dalam jurang bid’ah, mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya sudah ada dan lebih lengkap.

Menghadapi tantangan keummatan, berpesan sudah Imam Ali radhiyallahu anhu :

”Kejahatan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan yang centang perenang”

Teringatlah penulis dengan apa yang ditulis dalam anggaran Dasar Muhammadiyah. Dikutip disana sebuah ayat Al Quran :

Adakanlah dari kamu sekalian, golongan yang mengajak kepada ke-Islaman, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah daripada keburukan. Mereka itulah golongan yang beruntung berbahagia ”
(Al Qur’an, S. Ali-Imran:104).

Ditulis kemudian dibawahnya :
Pada tanggal 8 Dzulhiijah 1330 Hijriyah atau 18 Nopember 1912 Miladiyah, oleh almarhum KHA. Dahlan didirikan suatu persyarikatan sebagai “gerakan Islam” dengan nama “MUHAMMADIYAH” yang disusun dengan Majelis-Majelis (Bahagian-bahagian)-nya, mengikuti pererdaan zaman serta berdasarkan “syura” yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawatan atau Muktamar.

Kesemuanya itu. perlu untuk menunaikan kewajiban mengamalkan perintah-perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasul-Nya, Nabi Muhammad saw., guna mendapat karunia dan ridla-Nya di dunia dan akhirat, dan untuk mencapai masyarakat yang sentausa dan bahagia, disertai nikmat dan rahmat Allah yang melimpah-limpah, sehingga. merupakan:
“Suatu negara yang indah, bersih suci dan makmur di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Pengampun”.

Terkenanglah pula penulis dengan tulisan Hasan Al Banna di Risalah Ta’lim-nya tentang perangkat-perangkat Da’wah. Beliau tuliskan disitu :

Setiap perangkat harus memiliki manhaj, perencanaan, metode dan kecakapan. Semuanya harus dalam naungan hierarki organisasi, program kerja yang komprehensif, serta persepsi yang jelas tentang pendidikan dan pengajaran. Ini menuntut kejelasan dalam peringkat keanggotaan, kualifikasi, dan sinergi fungsi berbagai perangkat.

Tak lain dan tak bukan apa yang tertulis itu sama halnya dengan apa yang kita kenal dalam teori-teori manajemen modern sebagai “Manajemen Organisasi”. Visinya sama : Meninggikan kalimat Allah, Misinya pun sama : Menyeru ke Jalan Allah.

Lalu disusunlah strategi-strategi, taktik dan langkah-langkah penting. Ada yang boleh diceritakan kepada khalayak, adapula yang menjadi rahasia internal, semata-mata karena kepentingan perkembangan organisasi. Ada aturan-aturan yang mesti dipenuhi. Ada perangkat dan tingkat keanggotaan. Ada janji yang mesti dipegang teguh dalam strategi. Ada yang menyebut ini kemudian sebagai tsawabit dalam organisasi.

Tapi hendaklah berhati-hati, tak sama Tsawabit dalam Agama dengan Tsawabit dalam Organisasi. Tsawabit dalam Agama, seratus persen tak boleh dihilangkan, tapi tsawabit organisasi bergantung ia pada kondisi dan strategi yang dilakukan.

Karenanya kemudian taklah menjadi masalah apakah seorang personal memilih untuk bergabung di organisasi tertentu, dan tidak bergabung di organisasi lain. Tak pula harus menjadi riuh karena seseorang memilih untuk pindah ke organisasi lain, atau bahkan mendirikan organisasi baru yang boleh jadi dianggap sebagai saingan organisasi lama. Hal yang biasalah itu. Taklah orang itu menjadi sesat karenanya, Tak pula luntur Islamnya karena itu. Jika organisasi yang dibuatnya menjadi lebih terkenal, semata-mata karena keahliannya berorganisasi. Bolehlah jadi renungan kita agar organisasi yang ditinggal bisa sama terkenal pula.

Tak pula menjadi salah jika organisasi menetapkan anggotanya tak boleh pindah, semata-mata karena alasan profesionalisme, kebutuhan sumber daya manusia. Organisasipun ada naik turunnya, tak bisa serta merta besar , butuh rigiditas, ketetapan hati untuk terus mengelolanya, dan kadang kawan memang perlu di”ikat”, kadang dengan peraturan, kadang dengan honor dan uang, tak ada yang keliru. Tapi yang paling penting adalah “ikatan hati”. Kalau sudah terikat hati, apapun yang terjadi, tak goyahlah dia ada disisi kita.

Kepada kawan yang pindah tadi, tak boleh kita cap dia sebagai “pengkhianat”. Bab Ukhuwah kemudian dimajukan, organisasi tetap organisasi, tapi kawan tetaplah kawan. Masih lapang ruang tamu kita untuk terima dia malam hari, masih empuk kasur kita untuk dia menginap, tak ada yang rusak karena dia pindah ke lain organisasi.

Justru hati-hati kita, jangan-jangan amalnya di tempat yang baru lebih banyak, jangan-jangan sholatnya lebih khusyu karena banyaknya masalah yang dihadapi, jangan-jangan makin banyak shodaqohnya karena Allah lancarkan rezekinya, jangan-jangan semakin dekat pula dia ke surga, dibandingkan kita yang setiap hari hirau dengan kepindahannya.

Da’wah menuntut kelapangan hati. Da’wah mengajak orang kepada Islam, bukan kepada golongan-golongan. Abu Bakar dan Umar pun kadang berselisih paham, tapi damailah keduanya jika sudah dihadapkan kepada masalah ummat.

Sesungguhnya yang terbaik diantara kamu, adalah yang paling taqwa. Begitu ajaran agama. Besarkan organisasi kita, agar semakin manfaat dampaknya. Besar dan sokong pula organisasi kebaikan punya kawan kita, agar bisa semakin banyak pilihan kebaikan bagi ummat.

Semoga Allah menjaga niat kita.

Allahu ‘Alam

*) http://rezaervani.blogspot.com


Responses

  1. menurut saya, sebuah organisasi yang baik itu tidak memaksakan anggotanya untuk tidak boleh pindah ke organisasi lain. karena sudah menjafi sunatullah bahwa manusia itu punya hak asasi masing-masing. jadi cara mengikat ksder-kader organisasi dengan menjadi diri sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: