Oleh: halaqohdakwah | Juli 14, 2008

Bakwan (Bakal Ikhwan)

Afra Afifah -sebuah tulisan menarik dari seorang teman-

Pemuda itu bergegas mempercepat langkahnya menuju tempat yang disepakati untuk bertemu dengan beberapa orang kawan. Sesampainya di tempat yang dijanjikan, dia tak melihat seorang pun disana, hanya suasana sunyi yang dia dapati. Sejenak dia berpikir, tidak mungkin dia terlambat. Dia yakin betul dengan ingatannya bahwa hari sebelumnya mereka sepakat untuk bertemu di tempat ini selepas sholat maghrib untuk bersama-sama berangkat ke sebuah masjid yang tidak jauh dari situ. Meskipun masjid itu tidak jauh dari tempat yang mereka sepakati untuk bertemu, tapi dia tidak punya cukup nyali untuk pergi kesana sendirian, mengingat dia berpikir bahwa dia bukanlah termasuk salah satu dari golongan mereka. Akhirnya, dia memutuskan untuk menyusul temannya langsung ke masjid yang dimaksud dengan tekad yang terlalu dipaksakan tentunya.

Setibanya di pintu gerbang masjid tersebut, dilihatnya kerumunan orang-orang tua-muda berkerumun, titik sentral perhatian mereka tertuju pada seorang pria paruh baya yang duduk di depan mihrab masjid. Terlihat sesekali pandangan pria itu seperti sedang membaca sebuah buku didepannya. Di sisi lain orang-orang yang mengerumuninya, dengan tekun menyimak apa yang diucapkan pria tadi. Diantara mereka ada yang mencatat, menyimak pula sebuah buku, dan sebagian dari mereka terlihat mengenakan pakaian ala timur tengah. Pemuda itu masih saja terpaku di depan pintu gerbang masjid, matanya mencoba mencari-cari teman-teman yang tadi berjanji untuk berangkat bersama. Sehingga dengan mereka dia lebih merasa nyaman untuk bergabung dengan lingkungan yang tampaknya masih asing baginya. Namun dia tidak juga menemukan teman-teman yang dicarinya. Akhirnya nyalinya kembali ciut, dan dia beringsut meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke tempat kost-nya.

Pertemuan berikutnya, pemuda itu kembali mendapat kesepakatan dengan teman-temannya tadi untuk berangkat bersama ke masjid yang sama. Akan tetapi kejadian itu terulang kembali, dia tidak menemukan teman-temannya di tempat yang telah mereka sepakati seperti sebelumnya. Pemuda itu kembali membernikan diri untuk berangkat sendirian ke masjid tersebut. Kali ini tekadnya sudah sedikit lebih kuat dari yang sebelumnya. Dengan perasaan was-was pemuda itu pelan-pelan berjalan ke arah masjid. Pemuda itu mengambil tempat duduk paling belakang, masih dengan perasaan takut kalau-kalau dia menjadi perhatian dikarenakan penampilannya yang berbeda dari kebanyakan orang-orang disana yang bercelana layaknya orang yang sedang kebanjiran.

“Rejected by Religion” itulah perasaan yang selalu melekat pada diri orang-orang seperti dirinya yang menghalangi untuk mengikuti acara-acara keagamaan semacam pengajian seperti ini. Perasaan yang dimiliki oleh orang yang kehidupannya jauh dari kereligiusan, hampa, bahkan lebih sering bergelimang maksiat. Perasaan yang sudah barang tentu dihembuskan oleh syaithon secara kencang agar mereka jauh dari jalan hidayah. “Kamu tidak layak berada disitu…tempatmu bukanlah disitu….,apa kata teman-temanmu nanti kalo mengetahui kamu duduk disitu…ikut-ikutan acara begituan…mau sok suci sekarang kamu…halah jangan munafik deh…”, begitulah kira-kira bisikan syaithon yang dihembuskan untuk menimbulkan keraguan. Alih-alih menemui hal yang mencemaskan dirinya sedari tadi, pemuda itu ikut larut dalam suasana yang ada. Dengan sabar dia mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan oleh seorang ustadz didepan yang tampaknya adalah isi dari kitab berbahasa arab yang ustadz tersebut baca.

Acara pengajian itu berakhir selepas isya’ setelah sesi tanya-jawab, dari teman-temannya dia tahu, ustadz yang membawakan kajian ini bernama ustadz Muhtarom dan pengajian ini rutin dilaksanakan setiap hari senin ba’da maghrib. Semenjak hari itu, pemuda itu berusaha untuk mengikuti acara pengajian tersebut setiap pekannya. Lama-kelamaanpemuda tersebut ikut juga bermulazamah dengan ustadz yang sama di masjid lainnya. Pelan-pelan pemuda tersebut punya keiginan untuk tampil seperti kebanyakan orang-orang yang ikut pengajian tersebut, walaupun dia masih belum tahu kenapa harus mengenakan celana diatas mata kaki pemuda itu mulai masuk ICMI (Ikatan Celana Melinting Indonesia). Dia sadar tidaklah mudah mengubah penampilannya secara drastis, tampaknya dia masih berat dengan hal itu.

Para akhwat punya sebutan khusus untuk pemuda yang baru awal-awal ikut kajian seperi pemuda tadi. Bakwan, akronim dari Bakal Ikhwan begitu mereka menyebutnya. Mungkin terdengar lucu, tetapi melihat semangat dari para Bakwan ini para akhwat tadi menjadi merasa terpupuk lagi semangatnya yang terkadang mulai redup. Kehadiran bakwan-bakwan ini menjadi warna tersendiri bagi lingkungan kajian, mereka menjadi pelacut semangat penuntut ilmu yang telah terlebih dahulu mengenal manhaj yang sdang dalam keadaan jengah dan futur terhadap kewajiban menuntut ilmu syar’i.

Namun memilih untuk menjalani kehidupan sebagai bakwan tidak selamanya mudah dan berjalan lurus-lurus saja. Bakwan-bakwan ini juga sadar, betapa sulitnya untuk melepaskan diri dari jeratan kehidupan jahiliyahnya dulu. Beberapa aktifitas yang dulu sering mereka geluti sebelum mengikuti kajian masih sering menggoda untuk dijalani kembali. Pergolakan batin tersebut senantiasa bergejolak membuahkan kebimbangan di dalam hati. Bakwan-bakwan ini harus berjuang keras untuk menjaga cahaya-cahaya sunnah di dalam hatinya, membangkitkan kembali jiwa-jiwa yang hanif layaknya jiwa-jiwaWaraqah bin Naufal dan Salman al Farisi radyiallahu’anhuma. Karena mereka yakin di balik pribadi-pribadi yang jauh dari kereligiusan itu tersimpan dalam-dalam keinginan untuk kembali ke jalan yang benar, itulah jiwa yang hanif. Dalam keseharian mereka harus berhadapan dengan kawan-kawan dari kehidupan gelapnya dulu. Tak jarang mereka mendapat cemoohan dan cibiran dari mereka. Bakwan-bakwan itu selalu memohon agar senantiasa ditetapkan hidayah yang telah mereka dapatkan agar tidak dihilangkan dari hati mereka, seperti halnya mereka percaya firman Allah Azza wa Jalla:

“……..Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya . Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus” (Al An’am: 39)

Dan bakwan itu juga percaya bahwa jalan yang ditempuhnya saat ini merupakan jalan untuk menggapai Jannah-Nya seperti sabda Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) atas orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan atasnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya. Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga.

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar dengan nasabnya.”Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2699), Ahmad (II/252, 325), Abu Dawud (no. 3643), At-Tirmidzi (no. 2646), Ibnu Majah (no. 225), dan Ibnu Hibban (no. 78-Mawaarid), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lafazh ini milik Muslim

Dan pemuda itu masih saja bangga menyebut dirinya sebagai bakwan jagung (bakal ikhwan jago naek gunung) menunggu tersangkut kawat lentik (kawan(*istri) akhwat lembut nan cantik)

“…Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan diri.
Dan dia mengingat nama Tuhannya kemudian melaksanakan shalat.
Akan tetapi kamu lebih memilih kehidupan duniawi.
Padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal…”

(QS. Al-A’laa: 14-17)

Best Regards,
Afra Afifah

http://kaspo.wordpress.com/2008/06/25/bakwanoh-bakwan/


Responses

  1. Assalamu’alaikum..
    ‘afwan mau tanya, admin blog ini anak FSI FISIP UI kah…? saya cukup terkejut saat searching nama sy sndiri di gugel dan ketemu url ini… dan seingat saya, sy hny memposting di milist FSI tulisan tman saya ini… syukran..

  2. Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
    Sebelumnya kami mohon maaf gak minta izin dulu untuk me-repost tulisan anda. Dalam kesempatan ini sekalian kami mohon izin untuk memuat tulisannya🙂
    Kami bukan dari UI, cuma sekumpulan ‘bakwan’ yang coba memuat tulisan2 bermutu dan mencerahkan ummat, kami kira tulisan anda termasuk salah satunya.
    sekali lagi afwan telat minta izin, Jazakallah..
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  3. It looks like you are a true pro. Did you study about the theme? haha..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: